Lorong Sunyi di Rumah Sakit Sanatorium Blackwood
Sanatorium Blackwood. Bahkan namanya terasa dingin dan berlumut di lidah. Tersembunyi jauh di balik hutan pinus yang menghitam, rumah sakit jiwa yang terbengkalai ini telah menjadi legenda menakutkan bagi penduduk kota kecil di bawahnya. Mereka bilang, Blackwood adalah tempat di mana kesembuhan gagal dan kegilaan menemukan rumah permanennya.
Malam itu, gerimis halus turun, membasahi batu-batu nisan yang tidak terawat di halaman depan. Kami—aku (Elara), dan dua sahabatku, Ben dan Chloe—berdiri di depan pintu masuk besi tempa yang berkarat. Ben, yang selalu menjadi paling berani, menyalakan senternya, sinarnya menari di kaca jendela yang pecah.
“Kalian yakin tentang ini?” bisik Chloe, suaranya sedikit bergetar.
“Ini tempat paling berhantu di negara ini, Chlo. Tentu saja kita yakin,” jawab Ben sambil mendorong gerbang yang berdecit nyaring, seolah-olah jeritan terpendam dari masa lalu.
Lantai Dasar: Gema Keputusasaan
Di dalam, udara tebal dan berbau apek, campuran karat, debu, dan bau aneh seperti formalin basi. Senter kami menyapu lorong utama yang panjang, dilapisi ubin lantai bermotif sarang lebah yang pecah. Di kedua sisi, pintu-pintu kamar pasien terbuka sedikit, menampilkan kegelapan di dalamnya.
Kami melewati ruang resepsionis yang mejanya terbalik dan kantor dokter yang dipenuhi lembaran rekam medis yang menguning.
Tiba-tiba, kami mendengar suara yang jelas: sebuah kursi roda berderit di ujung lorong.
Kami bertiga terdiam, menahan napas. Suara itu terhenti.
“Angin,” kata Ben dengan suara yang terlalu keras, tapi matanya memancarkan keraguan.
Kami melanjutkan ke Ruang Perawatan utama. Di sana, di tengah ruangan, ada satu objek yang menarik perhatian: sebuah boneka porselen tua, duduk tegak di atas tandu berkarat. Matanya yang kosong tampak mengikuti kami. Elara merasakan hawa dingin yang tidak berasal dari suhu udara.
“Kita harus cepat,” desakku. “Ayo naik ke lantai atas. Katanya kamar Dr. Silas ada di sana.”
Lantai Dua: Dokter dan Bayangannya
Tangga kayu berderak mengkhawatirkan di bawah sepatu kami. Lantai dua adalah tempat di mana pasien-pasien yang dianggap “tidak tertolong” dikarantina. Suasananya jauh lebih berat, terasa seperti beban keputusasaan yang tak terucapkan.
Di ujung lorong, kami menemukan ruangan yang kami cari. Kamar Dr. Silas.
Ruangan itu terawat aneh. Meja kerjanya masih rapi, sebuah jurnal kulit hitam terbuka di atasnya. Saat Ben mendekat untuk memotretnya, sebuah suara terdengar, kali ini bukan deritan, melainkan bisikan halus yang datang dari sudut gelap ruangan.
“Kalian tidak seharusnya ada di sini…”
Suara itu terdengar seperti gerutuan tua, serak karena tahun-tahun yang dihabiskan dalam keheningan.
Seketika, pintu kamar tertutup dengan keras dan terkunci. Kami panik. Ben mencoba mendobraknya, sementara Chloe berteriak ketakutan.
Aku melihat kembali ke jurnal. Tiba-tiba, kata-kata yang tadinya samar-samar terlihat seperti tinta segar, menulis sendiri.
Tanggal: 1957. Pasien 44 (L-A-R-A) telah menunjukkan kemajuan. Tapi dia melihat sesuatu. Sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat. Blackwood tidak akan membiarkan kita pergi.
Napas Elara tercekat. Nama di jurnal itu adalah L-A-R-A, hampir sama dengan namaku.
Pintu Keluar
Saat ketakutan mencapai puncaknya, senter Ben kehabisan baterai. Ruangan itu langsung gelap gulita, hanya disinari cahaya bulan yang masuk melalui retakan.
Kami mendengar langkah kaki yang menyeret, mendekat di lorong. Perlahan, bayangan hitam panjang muncul di bawah celah pintu. Itu adalah bayangan seorang pria tinggi, dengan lengan panjang yang menjuntai seperti benang kusut.
“Sekarang!” teriak Ben.
Dia berhasil mendorong pintu tepat ketika bayangan itu mencapai ambang pintu. Kami berlari menuruk tangga, tidak peduli dengan teriakan Chloe atau lutut yang terkilir.
Saat kami keluar dari gerbang besi tempa itu, kami tidak melihat ke belakang. Kami terus berlari melintasi hutan pinus, suara napas kami yang terengah-engah menenggelamkan semua suara lainnya.
Kami tidak pernah berbicara banyak tentang apa yang kami lihat malam itu. Tetapi setiap kali kami menutup mata, kami mengingat bau formalin basi, mata kosong boneka porselen, dan bisikan dingin yang berjanji bahwa Blackwood tidak akan pernah membiarkan korbannya benar-benar pergi.


